Pemerintah Dorong Pesantren Jadi Pusat Pemberdayaan Santri Siap Kerja dan Mandiri Ekonomi

Kamis, 19 Februari 2026 | 15:33:49 WIB
Pemerintah Dorong Pesantren Jadi Pusat Pemberdayaan Santri Siap Kerja dan Mandiri Ekonomi

JAKARTA - Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) menekankan pentingnya pembekalan keterampilan tambahan bagi santri. Keterampilan tersebut mencakup literasi keuangan dan akses terhadap lembaga pembiayaan agar mereka siap menghadapi dunia kerja.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesejahteraan Sosial Kemenko PM, Nunung Nuryartono, menyebutkan bahwa setiap program pemerintah harus mengandung unsur pemberdayaan masyarakat. Pesantren sebagai pilar penting diharapkan menjadi titik awal pemberdayaan ekonomi di lingkungan santri.

Kegiatan Empowerment Pesantren: One Day, Real Impact

Pernyataan tersebut disampaikan saat kegiatan Empowerment Pesantren: One Day, Real Impact di Pondok Pesantren Labibah Muawanah, Kabupaten Pandeglang, Banten. Nunung menekankan bahwa pemberdayaan ekonomi perlu disinergikan dengan penguatan pendidikan agama dan karakter santri.

Kegiatan ini bertujuan menjadikan pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga lingkungan yang membekali santri dengan keterampilan produktif. Dengan pendekatan ini, santri diharapkan siap menghadapi tantangan sosial dan ekonomi masa kini.

Akses Rekrutmen dan Dunia Kerja bagi Alumni Pesantren

Kemenko PM membuka peluang rekrutmen bagi alumni pesantren melalui kerja sama dengan PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Model kolaborasi ini sudah diterapkan di sejumlah kawasan industri, termasuk Kota Semarang, Batang, dan Kendal, untuk memperluas akses kerja bagi lulusan pesantren.

Upaya ini memungkinkan alumni pesantren masuk ke dunia kerja dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri. Selain itu, mereka juga mendapatkan dukungan untuk mengembangkan kompetensi ekonomi secara praktis.

Perlindungan Sosial untuk Santri dan Alumni

Kegiatan pemberdayaan pesantren juga memperkuat aspek perlindungan sosial. Kehadiran BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan memastikan santri dan alumni yang bekerja mendapatkan jaminan kesehatan dan perlindungan kerja sesuai program negara.

Dengan adanya perlindungan sosial ini, alumni pesantren bisa fokus bekerja dan mengembangkan potensi tanpa khawatir terhadap risiko kesehatan atau ketenagakerjaan. Hal ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memaksimalkan manfaat program pemberdayaan masyarakat.

Pendekatan Terintegrasi dalam Transformasi Pesantren

Nunung menegaskan bahwa transformasi pesantren memerlukan pendekatan terintegrasi. Kolaborasi dan kebersamaan menjadi pilar utama dalam pemberdayaan masyarakat, terutama kelompok miskin dan miskin ekstrem, agar lulusan pesantren dapat berkontribusi pada perekonomian.

Pendekatan ini menggabungkan pendidikan agama, keterampilan ekonomi, akses kerja, dan perlindungan sosial secara menyeluruh. Dengan demikian, pesantren tidak hanya mencetak generasi yang religius tetapi juga produktif dan mandiri secara ekonomi.

Harapan Pemerintah bagi Santri dan Alumni

Melalui program ini, pemerintah berharap santri mampu mengembangkan diri secara holistik. Santri dan alumni diharapkan menjadi agen perubahan yang memperkuat ekonomi masyarakat sekitar pesantren.

Selain itu, kolaborasi lintas sektor diharapkan menciptakan peluang kerja yang lebih luas. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memadukan pendidikan agama dengan keterampilan kerja yang relevan.

Pesantren Sebagai Pusat Pemberdayaan dan Keterampilan Ekonomi

Kemenko PM menekankan bahwa pemberdayaan pesantren bukan hanya soal pendidikan agama, tetapi juga kesiapan menghadapi dunia kerja. Santri dibekali literasi keuangan, keterampilan praktis, akses rekrutmen, dan perlindungan sosial untuk masa depan yang lebih mandiri.

Dengan pendekatan ini, pesantren menjadi pusat pemberdayaan masyarakat yang menghasilkan alumni siap kerja. Pemerintah berharap model ini bisa direplikasi di pesantren lain untuk mendorong kesejahteraan dan kontribusi ekonomi santri secara luas.

Terkini