LANSKAPBERITA.COM — Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) menempatkan ketahanan rantai pasok sebagai prioritas utama untuk memperkuat industri makanan dan minuman nasional. Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman menekankan akses andal terhadap bahan baku berkualitas dan kemitraan pasok yang lebih kuat agar industri mampu merespons perubahan pasar.
Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman menyebut ada tiga prioritas yang perlu diperhatikan pelaku industri. Ketahanan rantai pasok menempati urutan pertama, disusul inovasi produk bernilai tambah, lalu kolaborasi lintas sektor.
Akses Bahan Baku Jadi Sorotan Utama
Menurut Adhi, industri membutuhkan pasokan bahan baku berkualitas yang tidak terputus. Kemitraan rantai pasok juga harus diperkuat agar pelaku usaha bisa bergerak cepat ketika kondisi pasar berubah.
"Kita membutuhkan akses yang andal terhadap bahan baku berkualitas dan kemitraan rantai pasok yang lebih kuat agar industri dapat merespons perubahan kondisi pasar," kata Adhi.
Pernyataan itu menyiratkan tekanan nyata di sisi hulu, mulai dari fluktuasi harga komoditas hingga gangguan distribusi yang bisa merembet ke biaya produksi. Bagi industri makanan dan minuman, kelancaran arus bahan baku menentukan stabilitas harga produk di pasar.
Inovasi dan Nilai Tambah Produk
Prioritas kedua adalah inovasi yang menghasilkan produk bernilai tambah. Adhi mendorong pelaku industri tidak berhenti pada pemenuhan permintaan pasar semata.
Pengembangan produk diarahkan pada kategori yang lebih sehat, fungsional, bersih, dan berkelanjutan. Menurut dia, produk yang dijual ke pasar perlu menawarkan nilai dan solusi baru bagi konsumen.
"Kita perlu bergerak melampaui sekadar memenuhi permintaan pasar dan terus mengembangkan produk dengan nilai yang lebih tinggi," ujar Adhi.
Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Prioritas Ketiga
GAPMMI menilai masa depan industri makanan dan minuman bergantung pada kerja sama yang lebih erat antara pelaku usaha, peneliti, asosiasi profesi, dan pemerintah. Kolaborasi dianggap perlu agar pengetahuan dan inovasi yang dikembangkan bisa diterapkan menjadi solusi sesuai kebutuhan pasar.
"Masa depan industri kita bergantung pada kerja sama yang lebih kuat antara bisnis, peneliti, asosiasi profesi, dan pemerintah," kata Adhi.
Pertukaran pengetahuan, penemuan solusi baru, dan pembangunan kemitraan disebut sebagai bagian penting dalam mendukung perkembangan sektor ini. GAPMMI juga berharap pameran industri makanan dan minuman menjadi ruang bagi pelaku usaha memperkuat kerja sama tersebut.
Lewat forum semacam itu, industri makanan dan minuman Indonesia diharapkan lebih siap menembus pasar regional dan global. Ketiga prioritas yang dipaparkan GAPMMI menjadi peta jalan bagi pelaku usaha dalam memperkuat posisi di tengah persaingan yang semakin ketat.